Jl. Winaon, Kanoman, Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45114
0822-1866-6463 Senin – Minggu: 08.00 – 16.00 WIB

Tentang Keraton

Jejak peradaban yang tak lekang oleh waktu — sejarah, garis keturunan, dan arsitektur Keraton Kanoman.

Warisan Sejak 1678

Jejak Agung Kasultanan Cirebon

Keraton Kanoman berdiri pada tahun 1678, didirikan oleh Pangeran Mohammad Badrudin atau yang dikenal sebagai Sultan Anom I, atau Pangeran Kertawijaya/Kartawijaya putra dari Panembahan Girilaya.

Sejak berdirinya, Keraton Kanoman menjadi pusat pemerintahan, keagamaan, dan kebudayaan masyarakat Cirebon. Perpaduan pengaruh Islam, Hindu-Buddha, dan budaya lokal tercermin di setiap sudut bangunan, tradisi, dan seni yang terus dijaga.

Melewati berabad-abad sejarah — dari masa kejayaan Kesultanan, era kolonial Belanda, hingga Indonesia merdeka — Keraton Kanoman tetap berdiri kokoh sebagai simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Cirebon.

Penerus Trah Sunan Gunung Jati

Keraton Kanoman dipimpin oleh Sultan yang merupakan keturunan langsung Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo yang membawa Islam ke tanah Jawa Barat. Garis keturunan ini dijaga sebagai amanah spiritual dan budaya, kini juga melalui hadirnya House of Kanoman — lini produk warisan yang membawa nilai leluhur ke kehidupan sehari-hari.

Arsitektur yang Menceritakan Sejarah

Keraton menempati area sekitar 6 hektar di jantung Kota Cirebon, terdiri dari beberapa bagian:

  • Waringin KurungPohon Beringin yang dikelilingi pagar dan terletak di tengah antara alun-alun dan pasar, adalah simbol dari prisip dan fungsi Keraton Kanoman dalam pengayoman dan memberi keteduhan kepada masyarakat.
  • Masjid Agung KanomanDibangun pada tahun 1930 oleh Sultan Raja M. Zulkarnain Sultan Kanoman VIII Lambang Keraton Kanoman dalam fungsi penyebaran Ajaran Islam serta penjaga dan pengembangan budaya Islam. Implementasi dari fungsi diatas adalah pelaksanan Muludan Nabi Muhammad SAW. Masjid juga masih digunakan sebagai sarana ibadah sholat bagi masyarakat Islam di lingkungan Keraton dan sekitarnya.
  • Alun-alunAdalah sebidang tanah yang terletak di sebelah utara Keraton Kanoman yang berfungsi sebagai tempat apel besar prajurit dan lain-lain.
  • Lawang Dalem Agungsebuah pintu yang terletak di selatan alun-alun yang merupakan pintu masuk menuju Keraton ataupun Pendopo Jinem.
  • Bangsal Panca NitiTerletak disebelah barat kompleks Ksiti Hinggil. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat para prajurit penerima tamu.
  • Bangsal Panca Ratna Terletak disebelah timur kompleks Ksiti Hinggil. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat para Bintara penerima para tamu dengan tingkat dan jabatan  lebih tinggi daripada para prajurit di Panca Niti.
  • Alu Lumpang — Di sebelah timur bangunan Panca Ratna terdapat dua bangunan tempat situs Alu Lumpang. Benda ini merupakan peninggalan para leluhur dahulu. Lumpang berupa Yoni dan Alu berupa Lingga keduanya berupa perlambang Dewi Durga istri Dewa Syiwa. Kedua benda ini merupakan peninggalan Ki Gedeng Alang-Alang atau Ki Danusela, tetapi barang-barang tersebut diinformasikan kepada masyarakat sebagai alat penumbuk rebon untuk membuat terasi milik Mbah Kuwu Cirebon, Pangeran Cakrabuana.
  • Kompleks Ksiti Hinggil Ksiti Hinggil berarti tanah tinggi. Sesuai dengan namanya komplek Ksiti Hinggilmempunyai ketinggian tanah yang berbeda dengan tanah lainnya di Keraton Kanoman. Memasuki kompleks Ksiti Hinggilpengunjung akan menempuh 5 titian. Terdapat 3 (Tiga) buah pintu masuk kedalam Komplek Ksiti Hinggil, yaitu :
    1. Pintu Syahadatein : Pintu masuk yang menghadap utara
    2. Pintu Kiblat : Pintu yang menghadap ke barat
    3. Pintu Solawat : Pintu yang menghadap ke selatan
    Kompleks Ksiti Hinggil mempunyai makna filosofis yang sangat tinggi, sebagai berikut: Apabila seseorang ingin mencapai derajat yang tinggi, maka kita harus membaca syahadat sebagai syarat muslim, menghadap kiblat dengan melakukan Shalat sebagai salah satu kewajiban muslim dan senantiasa bersholawat atas Nabi Muhammad Rasulullah SAW sebagai junjungan dan panutan umat Islam.
  • Mande Manguntur — Manguntur berarti Mangun Tutur. Mande Manguntur sesuai namanya berfungsi sebagai tempat Sultan menyampaikan wejangan, berita, hukum atau ajaran agama kepada masyarakat. Selain itu berfungsi juga sebagai pelinggihan Sultan saat menghadiri dan menyaksikan upacara, seperti : apel prajurit dan pemukulan perdana gamelan sekaten pada tiap tanggal 8 maulid.
  • Bangsal Sekaten — Di sebelah timur mande manguntur terdapat bangunan yang disebut Bangsal Sekaten. Bangsal ini tempat dipentaskannya Gamelan Sekaten, gamelan pusaka karya Sunan Kalijaga. Gamelan Sekaten ini dipentaskan di setiap tanggal 8 – 12 bulan Mulud. Kata sekaten diambil dari kata Syahadatein. Bangsal Sekaten berbentuk persegi panjang dengan kontruksi Malang Semirang. Dibagian bawah bangsal terdapat ruang dengan rongga resonansi yang terhubung ke Gunung Jati. Rongga resonansi ini juga menghasilkan suara gema yang khas saat Gemelan Sekaten ditabuh.
  • Lawang Si Blawong atau Kori Si Blawong yang berarti Besar dan Tinggi adalah pintu gerbang besar dan tinggi yang terletak di sebelah barat Ksiti Hinggil. Daun pintu gerbang yang digunakan adalah kayu jati yang besar dan tebal, pintu ini merupakan salah satu pintu yang dilalui pada saat proses iring-iringan Panjang Jimat pada setiap peringatan Muludan Nabi Muhammad SAW.
  • Balai Paseban — Bale Paseban Adalah bale tempat seba masyarakat, pejabat dan jajaran kesultanan yang akan menghadap sultan. Bangsal Paseban terletak di selatan komplek Ksiti Hinggil. Bangunannya beratap malang semirang. Bale Paseban juga digunakan upacara Selametan Bubur Sura dan dalam rangkaian peringatan Muludan digunakan untuk upacara Buang Takir.
  • Lawang Regol Kejaksan — Pintu berbentuk regol atau gledegan. Terletak disebelah selatan Bale Paseban, sebagai pintu masuk Sultan menuju Bale Paseban untuk membicarakan perkara hukum.
  • Taman Sari Balong Asem — Disebut Balong Asem karena terdapat kolam atau Balong dan pohon asem yang dihiasi dengan patung berbagai jenis binatang, seperti : Gajah, Kijang dan Macan Singa Barong.
  • Bangsal Semirang — Bangsal Semirang memiliki fungsi sebagai tempat para seniman dan budayawan berinspirasi, berdiskusi dan berkarya dalam bidang seni. Bangunan ini terletak di sebelah selatan Taman Sari Balong Asem. Terdapat ornamen dan hiasan taman seperti Wadasan dan Mega Mendung.
  • Bangsal Semirang — Bangsal Semirang memiliki fungsi sebagai tempat para seniman dan budayawan berinspirasi, berdiskusi dan berkarya dalam bidang seni. Bangunan ini terletak di sebelah selatan Taman Sari Balong Asem. Terdapat ornamen dan hiasan taman seperti Wadasan dan Mega Mendung.
  • Bangunan Lonceng Gajah Mungkur — Terletak di sebelah selatan Langgar Kraton, berfungsi sebagai garasi kendaraan Sultan dan di atas bangunan ini terdapat Lonceng Prunggu pemberian Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stanford Raffles kepada Sultan Komarudin I (Sultan Kanoman VI). Raffles berkuasa di Hindia Belanda pada tahun 1811-1816 Masehi. Lonceng Gajah Mungkur buatan Inggris ini merupakan salah satu dari 3 (tiga) bukti adanya pengakuan dan penghormatan dari Pemerintah Kolonial Inggris terhadap Kesultanan Kanoman Cirebon sebagai satu Kesultanan yang cukup berpengaruh. Sesuai dengan kesepakatan konvensi London secara rahasia yang ditanda tangani bersama antara Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yaitu Jawa dan Sumatera dibawah kekuasaan Inggris tahun (1811 – 1816) M. Didalam kurun waktu 5 (lima) tahun ini Kesultanan Kanoman mendapat kunjungan kehormatan. Sultan Muhammad Komarudin I (Sultan Kanoman VI) memperoleh tanda berupa : Mesin Jahit, Kacip (alat pemotong cerutu) dan Lonceng besar yang kemudian disebut Lonceng Gajah Mungkur. Lonceng ini dahulunya digunakan sebagai alat penetap waktu, hingga saat ini masih digunakan sebagai penanda jimat masuk pada saat muludan.
  • Langgar Keraton — Terletak di sebelah barat Pintu Regol Kejaksan. Bangunan ini merupakan tempat Sultan dan kerabatnya melaksanakan sholat dan ibadah lainya serta upacara sakral, seperti : pembacaan naskah Isra Mi’raj dan Nisfu Sya’ban.
  • Gedung Museum — Terletak di sebelah timur Pintu Regol Kejaksan. Bangunan ini merupakan tempat penyimpanan koleksi Keraton Kanoman berupa benda-benda pusaka peninggalan leluhur keluarga Keraton Kesultanan Kanoman seperti Peti-peti Mesir, tombak, keris, gamelan, alat-alat debus, Kereta Paksi Naga Liman, Kereta Jempana dan lain sebagainya.
  • Bangsal Singabrata — Bangsal Singabrata berasal dari kata Singha : gerbang dan brata : besar, artinya tempat  pengecekan terakhir dan ruang tunggu bagi tamu sultan dari kalangan para panggede atau pangageng. Bangsal Singabrata Terletak di sebelah barat Gedung Museum dengan kontruksi bangunan malang semirang.
  • Bangsal Singabrata — Bangsal Singabrata berasal dari kata Singha : gerbang dan brata : besar, artinya tempat  pengecekan terakhir dan ruang tunggu bagi tamu sultan dari kalangan para panggede atau pangageng. Bangsal Singabrata Terletak di sebelah barat Gedung Museum dengan kontruksi bangunan malang semirang.
  • Lawang Regol Mundu —Pintu bacem akses masuk dan keluar Sultan dari Pura Puri. Letaknya persis di sebelah selatan Bangsal Singabrata.
  • Blandongan Jinem — Bangsal Jinem ; Jinem (bahasa Sansekerta) artinya puji dan gunem. Tempat para tamu sultan dari kalangan masyarakat dan pejabat yang ingin menghadap sultan atau menghadiri undangan sultan pada saat tertentu, misalnya : upacara besar peringatan Muludan Nabi Muhammad SAW, upacara adat penobatan Putra Mahkota menjadi Sultan dan lain-lain. Bentuk bangunan kontruksinya malang semirang (joglo berganda), nama Jinem juga bisa diartikan dengan Siji lan Nem sebagaimana kolam segi enam di Kebon Bintang dan Belimbing segi enam di bendera Panji Macan Ali, bendera warisan Kerajaan Cirebon sejak era Sri Mangana.
  • Mande Mastaka — Mande Mastaka menyatu dengan Bangsal Jinem dan terletak disebelah selatannya, hanya disekat dengan tembok dan tiga pintu. Kontruksi bangunan ini adalah baratap Joglo dengan ornament dan ukiran kayu di atas Plafonnya. Mande Mastaka mempunyai fungsi ganda, yaitu: 
    1. Untuk tamu undangan para pembesar saat upacara peringatan Maulid Nabi dan pagelaran kesenian seperti tarian Bedhaya.
    2. Tempat untuk putra mahkota naik tahta (Pengangkatan/ Jumenengan/ Penobatan Putra Mahkota menjadi Sultan), dimulai sejak era sultan Kanoman pertama

    Di dalam Mande Mastaka juga terdapat Mande Prabayaksa berfungsi sebagai Mande Playonan tempat jenazah Sultan dan keluarga saat disholatkan. Pada Plafon Mande Mastaka yang berukir mewah, terdapat tanda tahun pembuatan bangunan ini, tetapi sayang tidak bisa secara jelas terbaca Candrasengkalanya karena bentuk hurufnya sudah mulai kusam. Akan tetapi di daun pintu utama pembatas Bangsal Jinem dan Mande Mastaka terdapat Candrasengkala Memet berupa ukiran yang berbunyi Kemangmang ing Bumi Pandawa Surya atau bisa dibaca Kemangmang ing Bumi Pandawa  Candra, yang menunjukan angka tahun 1510 Saka atau 1588 Masehi.

  • Taman Kebon RajaTaman Kebon Raja terletak disebelah barat Mande Mastaka dan Bangsal Jinem, merupakan taman dengan kolam bintang segi enam sebagai penyegar suasana bangunan yang ada disekitarnya.
  • Gedong Kaputren — Gedong Kaputren terletak di sebelah timur Mande Mastaka, tempat tinggal putra-putri sultan. Sedangkan Putra-putri Sultan yang sudah berkeluarga harus tinggal diluar Kraton.
  • Gedong Pedaleman Sultan (Kedaton) — Gedong Pedaleman Sultan (Kedaton) adalah tempat tinggal Sultan beserta istrinya (Ratu Dalem/Garwa Padmi/Permaisuri). Terletak di sebelah timur Kaputren.
  • Lawang Abang — Lawang Abang adalah pintu gapura berbentuk piramida bagian atasnya dari kayu Laka untuk menuju Kedaton dari arah Kaputren, sebagai tempat permulaan atau awal Bedaring Panji Macan Ali dalam Pawai Alegoris Panjang Jimat.
  • Kebon Jimat — Kebon Jimat adalah Pungkuran Kraton, merupakan sebuah Kebun yang di dalamnya terdapat beberapa Sumur  Kramat. Terletak berdekatan dengan Pedaleman dan Kaputren. Sumur – sumur itu adalah : 
    1. Sumur Penganten ; Sumur Kramat berbentuk bujur sangkar  yang dihiasi Wadasan. 
    2. Sumur Bandung ; Sumur Kramat yang berukuran paling besar.
    3. Sumur Kejayaan ; Sumur Kramat yang berbentuk bundar halus dan 
    4. Sumur Agung Witana ; Sumur Kramat yang berbentuk bundar dan dihiasi Wadasan. 

    Sumur-sumur kramat ini dikenal dengan nama sumur pitu (tujuh)

  • Bangsal Pejimatan — Bangsal Pejimatan tempat untuk menyimpan barang Pejimatan Kraton dan tempat pemburat, yaitu tempat membuat boreh dan jamu (mipis) untuk sarana upacara Muludan Nabi Muhammad SAW. Terletak di depan Gedung Pedaleman Sultan (Kedaton).
  • Bangsal Witana — Bangsal Witana adalah rumah yang dibangun pertama oleh Ki Gedeng Alang-Alang (Ki Danusela) saat pertama kali membuka Tegal Alang-Alang. Terletak disebelah barat kawasan Kebon Jimat atau disebelah selatan Mande Mastaka. 

    Bangsal Witana berbentuk joglo, di atas Plafonnya terdapat ukiran dan candra sengkala yang berbunyi : “Mungaling Tatahan Pranataning Ratu” yang menunjukan angka 1561 Saka atau 1639 Masehi. Angka tahun candra sengkala ini menunjukkan tahun renovasi komplek Witana di era Pangeran Mas Zainul Arifin Panembahan Ratu II (1568 – 1649) M. 

    Bangsal Witana difungsikan sebagai tempat lelakon Sultan menimba ilmu kebatinan.

    Bangsal Witana dari kata Awite Ana (permulaan ada) artinya yang lain adalah Bangsal yang selalu dihias dan bagus.

  • Gedung Pulantara atau Purwantara — Terletak di sebelah timur perbatasan dengan tembok Gedong Pedaleman Sultan. Gedung Pulantara atau Purwantara terdiri dari tiga lantai berfungsi sebagai tempat peristirahatan Prajurit Kraton Kanoman yang disebut Kemantren. Konon gedung ini dibangun dalam waktu yang amat singkat yaitu 1 (satu) hari satu malam oleh puluhan Jin yang dibawah perintah Panembahan Emas Zaenul Arifin  pada tahun 1588 Masehi, di tahun-tahun terakhir sebelum mengalami keruntuhan, sempat ingin direnovasi oleh pihak pemerintah namun urung dengan berbagai alasan, saat ini (tahun 2017) sedang diupayakan direstorasi, dalam dekade terakhir Gedong Pulantara difungsikan sebagai tempat Kraman Mager Sari Sindang Kasih, pembawa Nasi Jimat pada Panjang Jimat Muludan.
  • Museum — Beberapa benda-benda peninggalan leluhur keluarga Kesultanan tersimpan dengan baik di Museum. Benda-benda ini menjadi bukti keberadaan keluarga Kesultanan Kanoman sebagai bagian integral dari Pakuwuan Caruan dan Kaprabon Caruban.